hawthornessevengables โ Banyak karya sastra klasik bercerita tentang kutukan yang menimpa satu keluarga turun-temurun, misalnya rumah tua yang menyimpan nasib buruk para penghuninya. Dalam kehidupan nyata, kisah firasat dan kutukan juga mudah dipercaya. Statistik dan psikologi menawarkan penjelasan lain yang tidak kalah menarik.
1Bias konfirmasi
Kita cenderung memperhatikan dan mengingat kejadian yang sesuai dengan keyakinan, dan mengabaikan yang tidak. Jika percaya sebuah rumah membawa sial, setiap kemalangan penghuninya akan tercatat, sementara masa-masa bahagia terlupakan.
Bias ini bekerja tanpa kita sadari, bahkan pada orang yang merasa sangat rasional.
2Hukum bilangan sangat besar
Dengan jumlah orang dan kejadian yang sangat banyak, kebetulan yang luar biasa pasti terjadi pada seseorang di suatu tempat. Peluang sebuah mimpi 'menjadi kenyataan' bagi satu orang memang kecil, tetapi di antara jutaan orang yang bermimpi setiap malam, kejadian seperti itu menjadi hampir pasti.
Kisah yang luar biasa itulah yang diceritakan ulang, sementara jutaan mimpi yang tidak terjadi tidak pernah dibicarakan.
3Mimpi dan angka
Tradisi menafsirkan mimpi menjadi angka untuk menebak hasil undian adalah contoh bagaimana keyakinan memberi kesan kendali atas kejadian acak. Secara matematis, mimpi tidak memengaruhi angka yang keluar dalam undian yang acak.
Rasa 'pernah tepat' biasanya berasal dari ingatan selektif terhadap tebakan yang kebetulan benar.
4Menikmati cerita, berpikir jernih
Kisah kutukan dan firasat tetap bisa dinikmati sebagai karya sastra dan bagian dari budaya. Masalah muncul ketika keyakinan semacam ini dipakai untuk keputusan penting, misalnya keuangan.
Latih kebiasaan bertanya: apa bukti yang bertentangan dengan keyakinan ini, dan apakah saya mencarinya dengan sama seriusnya?